LUMAJANG, Iki Radio — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur, secara resmi menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi mulai Senin (2/11/2026). Langkah cepat ini diambil menyusul rentetan bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang sejumlah wilayah akibat cuaca ekstrem.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menjelaskan bahwa penetapan status darurat ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dan memitigasi dampak buruk dari cuaca ekstrem yang sedang melanda.
"Langkah itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem, termasuk banjir dan tanah longsor," ujar Bupati yang akrab disapa Bunda Indah dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Bunda Indah secara khusus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan rawan longsor, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Perhatian khusus juga diarahkan kepada warga yang bermukim di sekitar aliran lahar Gunung Semeru. Pascabanjir lahar yang menerjang kawasan Besuk Kobokan, Pemkab Lumajang memastikan kondisi warga di sekitar lokasi terpantau aman. Kendati demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak lengah mengingat intensitas curah hujan yang masih tinggi.
Transisi dari musim kemarau ke musim hujan terbukti meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi. Tragedi tanah longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang merenggut nyawa seorang ayah dan anaknya, menjadi pengingat pahit akan pentingnya kewaspadaan dini terhadap kondisi alam.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, memaparkan bahwa hujan deras telah memicu bencana hidrometeorologi di enam kecamatan sekaligus. Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.
Salah satu dampak terparah tercatat di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, di mana akses jalan terputus akibat diterjang banjir lahar Semeru sehingga mengisolasi sebanyak 117 kepala keluarga (KK). Selain itu, bencana tersebut juga merusak tiga teras rumah dan menyebabkan 10 rumah lainnya berisiko ambruk.
"Saat ini belasan KK tersebut sudah tidak terisolasi," terang Isnugroho.
Melalui status tanggap darurat ini, Pemkab Lumajang terus mengimbau warga agar aktif memantau kondisi lingkungan sekitar, terutama saat hujan lebat berlangsung. Masyarakat diminta segera mengevakuasi diri ke tempat aman dan berkoordinasi dengan petugas jika mendapati tanda-tanda pergerakan tanah atau potensi longsor di lereng sekitar tempat tinggal mereka.



















