Iki Radio/Berita Terbaru

Iki Yang Paling/Ngetop

Iki Ceritanya/Orang Terkenal

KLIK DISINI

Iki Dibaca Juga/Jangan Lewatkan

Iki Terbaru/Paling Greeess

Kemkomdigi Uji Digitalisasi Bansos, Targetkan Penyaluran Lebih Tepat Sasaran

Iki Radio - Pemerintah mulai memperluas uji coba digitalisasi bantuan sosial (bansos) sebagai bagian dari reformasi tata kelola perlindungan sosial berbasis data. Langkah ini ditempuh untuk mengatasi persoalan klasik penyaluran bansos, mulai dari data ganda, verifikasi yang panjang, hingga potensi salah sasaran penerima.

Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital (Teknodigi) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Mira Tayyiba didampingi Dirjen Komunikasi Publik dan Media, Fifi Aleyda Yahya. 


Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital (Teknodigi) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Mira Tayyiba, mengatakan digitalisasi perlindungan sosial difokuskan pada program Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) yang menyasar 40 persen kelompok masyarakat terbawah secara ekonomi.

“Bantuan sosial merupakan salah satu bentuk kehadiran negara untuk melindungi masyarakat dari risiko kerentanan sosial,” ujar Mira dalam pemaparan kepada media, Selasa (26/5/2026).

Namun, menurutnya, pelaksanaan bansos selama ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterhubungan data antarlembaga yang belum optimal. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan data tidak mutakhir, ketidakkonsistenan informasi, hingga proses verifikasi yang memerlukan waktu panjang.

“Bapak Presiden menekankan pentingnya penguatan tata kelola perlindungan sosial berbasis data,” katanya.

Menindaklanjuti arahan tersebut, pemerintah melakukan uji coba digitalisasi bansos melalui pendekatan Digital Public Infrastructure (DPI). DPI didukung dua komponen utama, yakni Identitas Kependudukan Digital (IKD) yang dikelola Kementerian Dalam Negeri serta Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) yang dikembangkan KemKomdigi. IKD berfungsi memperkuat akurasi identitas penerima manfaat, sedangkan SPLP menjadi penghubung pertukaran data antarinstansi pemerintah.

“Ini adalah upaya untuk menciptakan data yang bersifat tunggal atau single source of truth,” jelas Mira.

Melalui integrasi tersebut, proses registrasi, verifikasi kelayakan, pengajuan sanggah, hingga tindak lanjut hasil sanggah diharapkan dapat berlangsung lebih transparan dan akuntabel.

Dengan demikian, penyaluran bansos diproyeksikan menjadi lebih tertib, cepat, dan adil. “Target akhirnya sederhana, yaitu masyarakat yang berhak tidak boleh terlewat dan masyarakat yang tidak lagi memenuhi kriteria tidak menerima bantuan,” tegasnya.

Mira menekankan digitalisasi bansos bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru, melainkan membangun ekosistem digital pemerintahan yang bekerja secara terintegrasi. Dalam skema tersebut, Kementerian Sosial bertindak sebagai pemilik program dan pengelola proses bisnis bansos, Bappenas memastikan tata kelola data, Kemendagri memperkuat identitas digital, sementara Kemkomdigi memfasilitasi pertukaran data.

Di sisi keamanan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bertugas mengawal perlindungan sistem, sedangkan pemilik data sektoral seperti ATR/BPN, BPS, PLN, BPJS, hingga Korlantas Polri menyediakan data pendukung verifikasi.

“Digitalisasi itu bukan sekadar aplikasi, tetapi ekosistem digital pemerintahan yang bekerja bersama untuk pelayanan publik yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

KemKomdigi menjelaskan, SPLP bekerja layaknya jembatan interoperabilitas yang memungkinkan sistem pemerintah saling berbagi data sesuai kewenangan dan standar keamanan.

Namun, Mira menegaskan mekanisme itu tidak memindahkan atau menyalin pangkalan data antarinstansi. “SPLP tidak mengambil alih data milik instansi lain. Data tetap berada pada instansi pemilik data,” katanya.

Sebagian besar pertukaran informasi bahkan bersifat terbatas, misalnya dalam bentuk jawaban “ya” atau “tidak” untuk kebutuhan verifikasi kelayakan. Melalui portal perlindungan sosial (perlinsos), masyarakat nantinya dapat melakukan verifikasi identitas, memilih program bantuan, mengajukan permohonan, memantau proses verifikasi, hingga menerima hasil secara digital.

Fitur yang dinilai menjadi terobosan baru ialah mekanisme sanggah, yang memungkinkan warga mengoreksi hasil verifikasi apabila merasa penilaian kelayakan belum sesuai kondisi riil. “Baru kali ini bansos ada proses sanggah,” kata Mira.

Pengajuan sanggah akan diverifikasi ulang oleh instansi terkait dengan dukungan sistem digital yang terhubung. Bagi masyarakat yang memiliki telepon genggam dan terbiasa menggunakan layanan digital, seluruh proses dapat dilakukan secara mandiri melalui skema self-service.

Namun pemerintah menyadari tidak semua masyarakat memiliki kemampuan maupun akses digital yang sama. Karena itu, skema pendampingan petugas tetap disiapkan, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses teknologi.

“Digitalisasi tidak boleh menimbulkan hambatan baru, bahkan sebaliknya harus memperluas akses layanan,” ujar Mira.

Uji coba digitalisasi bansos telah dimulai di Kabupaten Banyuwangi melalui dua tahap, yakni pendaftaran pada September 2025 serta mekanisme sanggah pada Maret–April 2026. Pembelajaran dari pelaksanaan tersebut kini menjadi dasar perluasan ke 42 kabupaten/kota mulai Juni 2026 secara bertahap.

KemKomdigi menilai pendekatan bertahap diperlukan agar kesiapan sistem, petugas lapangan, dan tata kelola dapat dipastikan sebelum diterapkan secara nasional.

Dalam sesi tanya jawab, Mira mengungkapkan digitalisasi juga diarahkan untuk mengurangi persoalan salah sasaran penerima bansos. Berdasarkan estimasi SUSENAS 2024 dan kajian Dewan Ekonomi Nasional (DEN), tingkat miss-target pada program PKH disebut masih cukup tinggi. “Dalam kasus PKH, yang disebut miss target itu sampai 45 persen,” ungkapnya.

Karena itu, digitalisasi dinilai penting agar data penerima lebih akurat, mutakhir, dan tidak ganda. Kemkomdigi juga meminta dukungan media dan masyarakat untuk memperkuat literasi digital, terutama dengan hanya mengakses layanan pemerintah melalui kanal resmi berdomain go.id, mewaspadai tautan mencurigakan, serta menolak permintaan biaya atau imbalan atas nama bantuan sosial.

Melalui perluasan uji coba ini, pemerintah berharap mampu membangun model tata kelola bansos yang lebih tertib, terdokumentasi, dan transparan sehingga perlindungan sosial benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

TikToker Asal Madura Dengan 11 Juta Pengikut Berhasil Bangun Rumah dan Beli Mobil

Iki Radio - Novita Sari termasuk salah satu konten kreator sekaligus influencer yang kini berhasil menggenggam kesuksesan. Perempuan asal Sampang, Madura, Jawa Timur, itu berhasil membangun beberapa rumah di kampung halaman dan bisa membeli mobil dari hasil kerja kerasnya.

Karier Novita Sari sebagai konten kreator berawal dari titik nol. Berangkat dari tekad yang kuat dan yakin akan bisa sukses, perempuan kelahiran 6 Januari 2004 itu benar-benar berhasil mewujudkan kesuksesan lewat kerja keras.

Kini, akun TikTok pribadinya, @novitasr_02, diikuti oleh sekitar 11,6 juta pengikut dan seluruh kontennya berhasil mengumpulkan lebih dari 200 juta suka. 

Pencapaian tersebut membuat Novita Sari termasuk salah satu konten kreator dan influencer yang cukup diperhitungkan.

Novita Sari menceritakan awal mula dirinya terjun sebagai konten kreator. Dimulai pada tahun 2020, dia coba-coba membuat konten di media sosial saat masih dekat dengan kekasihnya.

“Aku mulai dari titik 0 sama Anas Fikry. Kita berjuang dari sebelum punya penghasilan apa pun di TikTok, sampai sama-sama punya penghasilan. Akhirnya, kami memutuskan untuk menikah,” kata Novita Sari.

Perjalanan kariernya sebagai influencer juga diwarnai suka duka. Salah satu momen yang paling diingat Novita Sari adalah saat dia mendapat hantaman sangat keras dari netizen berupa bully dan caci maki di media sosial setelah rumah tangganya dengan Anas Fikry berakhir di jalur perceraian tidak terlalu lama setelah menikah.

Novita Sari mendadak panen hujatan netizen karena para pengguna media sosial menduga perceraiannya dengan Anas Fikry terjadi karena faktor dirinya yang berulah.

Hantaman keras netizen tidak membuat Novita Sari jadi drop secara mental, apalagi memilih menyerah. Dia terus memantapkan hati fokus menekuni profesi sebagai konten kreator dengan aktif membuat konten.

“Aku sempat mengalami banyak hujatan dari netizen. Tapi aku tetap konsisten bikin konten di TikTok dan Instagram,” tuturnya.

Konsistensi dalam membuat konten-konten di TikTok dari mulai tentang kecantikan, konten seru-seruan, mengabadikan momen, dll, membuat Novita Sari terus bertumbuh sebagai seorang konten kreator dan influencer.

“Aku dapat banyak endorse dan menjadi brand ambassador dari sejumlah brand sampai sekarang,” ceritanya.

Kerja keras yang dilakukan Novita Sari memberikan hasil yang sangat membanggakan bagi dirinya. Dia kini memiliki sejumlah aset dari hasil kerja kerasnya tersebut.

“Aku bangun rumah pada tahun 2021 di kampung dari hasil endorse TikTok. Di tahun 2023, aku bisa beli mobil CR-V Prestige. Dan di tahun 2025, aku bangun rumah lagi 2 lantai dari hasil dari TikTok,” tutur Novita Sari.

Bukan hanya menjadi konten kreator, Novita Sari kini juga memekarkan sayap karier di dunia usaha. “Sekarang aku ada bisnis hijab, BZ Hijab,” tandasnya.

Sambut Hari Raya Waisak, Disperindag Balangan Gelar Pasar Murah di Kapul

Iki Radio - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Balangan menggelar pasar murah di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Selasa (26/5/2026), guna membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga di daerah.

Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak tersebut disambut antusias warga yang memanfaatkan kesempatan untuk membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.

Staf Kemetrologian dan Stabilitas Harga Kabupaten Balangan, Muhammad Iqbal Afriadi, mengatakan pasar murah kali ini merupakan kegiatan ke-34 dan turut melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Balangan.

"Kami berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat Desa Kapul dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.

Berbagai kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, dan bahan sembako lainnya dijual dengan selisih harga sekitar Rp3 ribu lebih murah dibandingkan harga pasar.

Salah seorang warga Desa Kapul, Sahayah, mengaku terbantu dengan adanya pasar murah tersebut.

Menurutnya, harga kebutuhan pokok yang dijual lebih murah dibandingkan harga di pasaran sehingga cukup membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Senang sekali dengan adanya pasar murah ini. Semoga tahun depan bisa kembali dilaksanakan di Desa Kapul," katanya.

Tekan Angka Kemiskinan, Pemkab Madiun Siapkan Tiga Terobosan Jitu

Iki Radio – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun terus menunjukkan komitmen serius dalam menekan angka kemiskinan. 

Melalui Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Baperida), Pemkab Madiun menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pembahasan Strategi Penanggulangan Kemiskinan yang bertempat di Ruang IT, Selasa (26/5/2026).

Rakor dipimpin Wakil Bupati Madiun, dr. Purnomo Hadi. Agenda tersebut menghadirkan narasumber ahli dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, serta dihadiri oleh Kepala Baperida, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Badan Pusat Statistik (BPS), BPJS, sektor perbankan, Baznas, hingga kalangan akademisi dari UNS dan Unmer.

Wakil Bupati Madiun Purnomo Hadi memaparkan bahwa dirinya bersama Bupati Madiun telah menyiapkan beberapa terobosan jitu untuk mengintervensi dan mengurangi angka kemiskinan melalui tiga unsur utama.

Diantaranya dalam bidang kesehatan, yakni dengan melakukan tindakan preventif dan kuratif karena kondisi kesehatan yang buruk atau sakit dapat memicu kemiskinan baru. Disektor pendidikan Pemkab Madiun berupaya  membentuk pola pikir masyarakat agar memiliki kapabilitas untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Selain itu melalui investasi dan lapangan kerja dengan berupaya mendatangkan investor guna menciptakan lapangan pekerjaan yang luas bagi warga lokal.

"Pertama adalah tindakan dari unsur kesehatan, karena kondisi kesehatan yang buruk atau orang sakit bisa memicu kemiskinan. Kedua, unsur pendidikan, sebab pendidikan yang baik akan membentuk pola pikir seseorang untuk bisa keluar dari kemiskinan. Dan ketiga, kita terus berupaya mendatangkan investor guna menciptakan lapangan pekerjaan yang luas," ujar Wabup Purnomo Hadi.

Wabup Purnomo Hadi juga merefleksikan capaian kinerja Pemkab Madiun yang kini mulai menunjukkan tren positif jika dibandingkan dengan masa sebelum mereka menjabat.

Dulu, jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di Kabupaten Madiun berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada di bawah rata-rata provinsi. Namun, lewat berbagai kebijakan strategis yang diinisiasi Bupati, peta capaian tersebut berhasil dibalik.

"Hari ini kita sudah bisa mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran hingga di bawah angka provinsi. Target kita selanjutnya adalah terus meningkatkan IPM agar tidak lagi di bawah provinsi," terang Wabup.

Sebagai langkah konkret di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, Bupati Madiun diketahui telah menambah kuota beasiswa perguruan tinggi bagi masyarakat, membangun Sekolah Rakyat, serta rutin menggelar job fair (bursa kerja) secara berkala.

Selain menggenjot sektor ekonomi dan pendidikan, pembenahan internal terkait akurasi data kemiskinan juga menjadi fokus utama Pemkab Madiun. Evaluasi ketat terhadap data penerima bantuan sosial (bansos) akan segera dilakukan.

"Kita lakukan verifikasi agar Pak Bupati bisa mengambil intervensi yang tepat. Salah satunya, sudah ada kesepakatan bersama dengan pihak terkait untuk melakukan stikerisasi bagi rumah tangga penerima bantuan. Langkah ini diambil agar bantuan yang dikucurkan benar-benar tepat sasaran," tegas Wabup.

Di sisi lain, tim ahli dari Universitas Brawijaya menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa bertumpu pada pundak pimpinan daerah semata. Dibutuhkan kerja sama solid dari semua pihak melalui konsep pentahelix (pemerintah, akademisi, komunitas, bisnis, dan media).

Senada dengan hal tersebut, BPS Kabupaten Madiun turut memberikan sejumlah usulan strategis. Pihak BPS juga mengharapkan dukungan penuh (support) dari Pemerintah Daerah karena dalam waktu dekat akan melaksanakan Sensus Ekonomi. 

Akurasi data dari sensus tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi kompas utama agar program pengentasan kemiskinan di Kabupaten Madiun berjalan maksimal, efektif, dan tepat sasaran.(ir)

Berkolaborasi dengan Inspira Risbo, Pemkab Bojonegoro Gelar Diseminasi Crowdsourcing 100 Ide Pendidikan

Iki Radio - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya melalui kegiatan Diseminasi Crowdsourcing 100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro (Inspira Risbo). Kegiatan digelar di Ruang Angling Dharma Lt. 2 Pemkab Bojonegoro, Selasa (26/05/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Pembina Inspira Risbo Cantika Wahono, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Anwar Mukhtadho, serta beberapa kepala OPD lain seperti Kepala Dinas Budpar, dan BRIDA.

Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menekankan pentingnya semangat belajar dan kolaborasi untuk memajukan pendidikan di Bojonegoro. Menurutnya, pemerintah daerah masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam membangun dunia pendidikan yang semakin baik dan mendekati sempurna, terutama dalam memastikan hak pendidikan bagi seluruh warga negara.

“Kita harus terus belajar dan berbenah agar pendidikan Bojonegoro menjadi lebih baik lagi. Setidaknya kita harus mampu memberikan hak warga negara untuk mengenyam pendidikan,” ungkapnya.

Bupati juga menegaskan bahwa penanganan ATS tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah daerah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Mengatasi ATS tidak bisa sendirian. Kebijakan Pemda harus menjadi amanah dan mampu menumbuhkan keterlibatan elemen lainnya. Saya juga akan sering turun ke lapangan, terutama di wilayah-wilayah tertentu, karena masih ada anak-anak yang belum sekolah bahkan tidak mau keluar rumah. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Setyo Wahono.

Selain itu, ia berharap kegiatan crowdsourcing ide pendidikan ini mampu melahirkan solusi konkret dalam perencanaan dan penganggaran daerah, sekaligus mendorong lahirnya kompetisi dan inovasi pendidikan di Bojonegoro.

“Harapannya, forum ini bisa memberikan solusi nyata terhadap perencanaan dan penganggaran Pemda, sekaligus melahirkan kompetisi dan inovasi demi kemajuan pendidikan Bojonegoro,” pungkasnya.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Anwar Mukhtadho menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan, inovasi, dan ide yang diberikan demi meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dan tidak hanya menjadi urusan jenjang tertentu saja.

“Pendidikan di Kabupaten Bojonegoro ini adalah PR bersama. Pendidikan tidak hanya milik SMA, SMP, SD maupun TK, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak. Terima kasih atas masukan dan inovasi yang diberikan demi kemajuan pendidikan Bojonegoro,” ujarnya.

Anwar juga menyoroti persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi tantangan serius di Bojonegoro. Berdasarkan data terakhir, terdapat ribuan ATS yang membutuhkan perhatian bersama. “Kalau sesuai hasil terakhir kami, masih ada sekitar 5.610 ATS. Ini perlu kerja sama semua pihak agar ke depan ATS di Bojonegoro segera dapat dituntaskan,” tambahnya.

Optimalkan Program Makan Bergizi Gratis, Pemkab Madiun Beri Pembinaan SPPG dan Yayasan Mitra BGN

Iki Radio – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun bergerak cepat memastikan kelancaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto. 

Langkah ini diwujudkan melalui agenda pembinaan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Pimpinan Yayasan Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) agar operasional dapur MBG berjalan optimal sesuai Standard Operating Procedure (SOP).

Acara berlangsung di Aula PDAM Tirta Dharma Purbaya Kabupaten Madiun Senin (25/05/2026) dihadiri Bupati Madiun, Hari Wuryanto, Wakil Bupati dr. Purnomo Hadi, serta jajaran Forkopimda yang sekaligus bertindak sebagai pemateri.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekda Kabupaten Madiun Sigit Budiarto, kepala OPD terkait, Direktur PDAM Imansyah Novianto, S.T., serta jajaran Kepala SPPG dan BGN.

Dalam laporan pembuka, Kepala Bapperida Kabupaten Madiun, Sodik Hery Purnomo, memaparkan perkembangan signifikan terkait kesiapan infrastruktur pemenuhan gizi di wilayah Kabupaten Madiun per Mei 2026.

Saat ini, di Kabupaten Madiun telah terdapat 55 titik SPPG aktif, dengan total penerima manfaat 142.638 orang. Selain itu masih ada 1 titik SPPG yang masih tahap persiapan dan 6 titik SPPG aset Pemda yang masih tahap pembangunan.

Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menegaskan bahwa pendirian SPPG ini merupakan wujud kolaborasi penting dalam mendukung program nasional pemenuhan gizi anak, yang sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

"Ini tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Anak-anak harus sehat agar mampu mencapai cita-cita mereka. Layanan SPPG harus sesuai SOP Badan Gizi Nasional," tegas Bupati Madiun.

Selain menekankan kedisiplinan dan komitmen terhadap SOP, Bupati Hari Wuryanto juga menginstruksikan agar program MBG ini memanfaatkan potensi dan produk lokal. Langkah ini dinilai strategis untuk memutar roda perekonomian di Kabupaten Madiun.

"Salah satunya dengan memakai produk air mineral dari PDAM yaitu 'Yoiki'. Ini juga menjadi salah satu bentuk kolaborasi dan sinergi nyata antar-instansi di daerah," pungkasnya.(ir)

Menjelang Hari Jadi ke-458, Sekda Kabupaten Madiun Minta ASN Kompak Sukseskan Sepasma

Iki Radio – Pemerintah Kabupaten Madiun menggelar apel pagi bersama di Halaman Kantor Bupati Madiun, Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Caruban. 

Apel berlangsung khidmat dipimpin langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Madiun, Sigit Budiarto, dan dihadiri oleh jajaran staf ahli bupati, para asisten sekda, serta pejabat eselon di lingkungan Pemkab Madiun.

Dalam arahannya, Sekda Sigit Budiarto menekankan pentingnya peran aktif seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menyambut Hari Jadi ke-458 Kabupaten Madiun yang akan diperingati pada 18 Juli mendatang. 

Ia meminta seluruh jajaran untuk mulai bersiap diri meramaikan berbagai rangkaian kegiatan yang telah direncanakan.

"Saya minta kepada seluruh jajaran ASN agar aktif membantu, baik dalam hal persiapan maupun dalam meramaikan beberapa kegiatan yang nantinya akan mewarnai peringatan Hari Jadi ke-458 Kabupaten Madiun," ujar Sigit Budiarto di hadapan peserta apel.

Salah satu agenda tahunan yang menjadi sorotan utama dalam apel tersebut adalah gelaran Sepasma (Sepasar Ing Madiun). 

Sekda mengakui bahwa event pesta rakyat ini selalu berhasil menjadi magnet dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas.

Untuk itu, ia berharap esensi dan kemeriahan Sepasma tahun ini dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan, sebagai bagian dari refleksi sejarah dan hiburan bagi warga Kabupaten Madiun.

Lebih lanjut, Sigit Budiarto juga menegaskan bahwa apel pagi bukan sekadar rutinitas formalitas. Momentum ini harus dimaknai sebagai pondasi untuk memperkuat kedisiplinan, menjaga integritas, dan memupuk rasa kebersamaan antar-pegawai.

Dengan komitmen dan sinergi yang kuat dari para ASN, diharapkan visi besar daerah dapat berjalan selaras. 

Diantaranya disiplin tinggi yang menjadi modal utama pelayanan publik. Integritas dan kebersamaan sebagai kunci solidnya roda pemerintahan.

Diharapkan hal ini mampu mendukung penuh terwujudnya Pemerintahan Kabupaten Madiun yang Bersahaja (Bersih, Sehat, dan Sejahtera).(ir)

Targetkan Graduasi Kemiskinan: Pemkab Madiun Anggarkan Rp395 Juta untuk Stikerisasi Rumah KPM Bansos

Iki Radio – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun mengambil langkah progresif dan tegas guna mengurai benang kusut serta polemik klasik terkait akurasi data penyaluran bantuan sosial (bansos). 

Mulai semester dua tahun 2026, seluruh rumah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di wilayah Kabupaten Madiun wajib ditempeli stiker khusus sebagai penanda identitas sosial.

Langkah ini diambil untuk memastikan intervensi jaring pengaman sosial dari pemerintah berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. 

Guna memuluskan program masif ini, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp395 juta yang bersumber dari pos Dana Alokasi Umum (DAU) APBD 2026.

Kebijakan stikerisasi ini bukan sekadar formalitas administratif di atas kertas. Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyatakan dengan tegas bahwa pihak eksekutif tidak akan berkompromi dalam pelaksanaan di lapangan. 

Pemerintah daerah telah menyiapkan regulasi ketat, jika ada warga yang menolak pemasangan stiker, atau dengan sengaja merusak dan melepas stiker yang telah terpasang, mereka secara otomatis dianggap mengundurkan diri secara sukarela dari kepesertaan bansos.

“Jangan nek bantuan gelem, tapi nek dikenehi (ditempeli) stiker enggak mampu enggak gelem. Nah, itu kan dusta di antara kita kan,” ujar Hari Wuryanto, Sabtu (23/05/2026).

Bupati yang akrab disapa Hari Wur ini juga mewanti-wanti masyarakat agar menjaga integritas program ini dengan tidak melakukan tindakan manipulatif di lapangan.

“Jangan sampai nanti setelah petugas menempel, malah diklentek (dilepas). Jadi nanti kalau kita sudah sampaikan mekanismenya, jika sampai dilepas, berarti dia otomatis dianggap mengundurkan diri dari daftar penerima,” tambah Bupati.

Di balik aspek penegakan disiplin data, Hari Wuryanto menekankan bahwa kebijakan ini mengusung misi moral yang besar, yaitu keterbukaan informasi publik. 

Selama ini, rumor mengenai ketidaktepatan sasaran bansos kerap memicu gesekan sosial di tingkat akar rumput. Pemerintah daerah sering kali dituding subyektif dan tebang pilih dalam mendistribusikan bantuan.

Melalui stikerisasi, potret kemiskinan dan distribusi bantuan akan tersaji secara gamblang di hadapan publik. Langkah ini sekaligus menjadi instrumen validasi data secara sosiologis (melalui kontrol sosial masyarakat) untuk memutus mata rantai desas-desus negatif yang menuduh bahwa penerima bansos didominasi oleh kerabat perangkat desa, lurah, hingga lingkaran dekat bupati.

“Karena selama ini kita dinilai bahwa Pak Bupati itu pilih kasih. Jadi kalau sudah ada stiker di setiap rumah penerima, semuanya akan kelihatan jelas secara objektif. Ini dilakukan supaya validasi data kami semakin akurat, sekaligus agar tidak ada lagi rasa suudzon (prasangka buruk) dari teman-teman atau masyarakat semua,” imbuhnya.

Mempertimbangkan sensitivitas isu ini di tengah masyarakat, Pemkab Madiun bergerak cepat mengonsolidasikan jajaran birokrasinya hingga ke tingkat terbawah. 

Rapat koordinasi (rakor) lintas sektoral yang melibatkan Dinas Sosial, jajaran Camat, digelar untuk menyamakan persepsi dan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) penempelan stiker.

Pemerintah daerah menginstruksikan pendekatan yang humanis namun tetap tegas selama proses sosialisasi, mengingat penempelan stiker kerap memicu beban psikologis bagi sebagian warga. 

Sosialisasi yang masif diharapkan mampu memberi pemahaman bahwa stiker tersebut adalah simbol akuntabilitas negara, bukan instrumen untuk menghakimi status sosial seseorang.

Berdasarkan data mutakhir dari Dinas Sosial Kabupaten Madiun, saat ini tercatat ada sekitar 82.000 kepala keluarga yang terdaftar sebagai penerima berbagai skema bantuan sosial. 

Hari Wuryanto menegaskan, indikator keberhasilan pembangunan daerah bukanlah seberapa banyak bantuan yang bisa dikucurkan, melainkan seberapa besar angka kemiskinan yang mampu ditekan setiap tahunnya.

Kebijakan stikerisasi ini diproyeksikan menjadi pemantik psikologis (shock therapy) yang diharapkan secara bertahap dapat mengurangi jumlah penerima bantuan sosial, terutama bagi keluarga yang secara ekonomi sebenarnya sudah mengalami peningkatan atau masuk kategori mampu namun enggan keluar dari zona nyaman bansos.

Lebih jauh, keberadaan stiker di rumah warga prasejahtera ini akan dijadikan alat kontrol performa bagi para pendamping program sosial di lapangan (seperti Pendamping PKH maupun TKSK). Mereka dituntut untuk tidak sekadar menjadi kurir atau pencatat administratif bantuan, melainkan bertindak sebagai mentor ekonomi.

“Mudah-mudahan dengan skema ini, angka penerima bisa terus berkurang karena kita ingin angka kemiskinan makro di Kabupaten Madiun juga turun secara riil. Di sinilah peran krusial pendamping agar sukses membimbing mereka dari status prasejahtera menuju keluarga yang mandiri dan sejahtera. Harapan besarnya, seluruh anggaran negara ini benar-benar tepat sasaran,” pungkasnya.(ir)

close
Pasang Iklan Disini