Iki Radio — Nama Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso senantiasa terpatri dalam sejarah bangsa sebagai wujud nyata dari kejujuran, ketegasan, dan integritas tinggi.
Di tengah dinamika pemerintahan dan penegakan hukum, kisah perjalanan hidup mantan Kepala Staf Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) ini terus menjadi penuntun moral bagi jajaran kepolisian dan masyarakat luas.
Perjalanan Karier dan Pengabdian
Lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921 dengan nama lahir Iman Santoso, Hoegeng mengawali ketertarikannya pada dunia kepolisian sejak masa muda. Selepas menyelesaikan pendidikan di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS) serta berbagai kursus kepolisian di masa pendudukan Jepang, Hoegeng aktif berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karier kepolisiannya membentang di berbagai wilayah dan instansi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kepala DPKN di Surabaya (1952), Kepala Bagian Reserse Kriminal di Medan (1956), hingga dipercaya memimpin Jabatan Imigrasi sebagai Kepala Djawatan Imigrasi pada 1960. Karier birokrasinya pun merambah ke tingkat kabinet saat dipercaya menjadi Menteri Iuran Negara (1965) dan Sekretaris Kabinet (1966).
Pada 5 Mei 1968, Hoegeng resmi dilantik menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Soetjipto Joedodihardjo. Di bawah kepemimpinannya, reorganisasi besar-besaran dilakukan untuk memodernisasi dan mendinamiskan struktur kepolisian. Pada masa jabatannya pula, istilah Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) secara resmi diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri) berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1969. Hoegeng juga memperkuat kiprah Polri di kancah internasional melalui pembentukan Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.
Sosok Berani dan Menolak Korupsi
Sepanjang masa pengabdiannya—terutama saat menjabat sebagai Kapolri hingga tahun 1971—Hoegeng dikenal gigih memberantas praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Keberaniannya dalam membongkar berbagai kasus besar menjadikannya salah satu figur pejabat publik yang paling dihormati dan disegani dalam sejarah Indonesia.
Sisi Humanis dan Seni
Di luar seragam kepolisiannya, Hoegeng adalah sosok yang sederhana dan berjiwa seni. Ia gemar memainkan ukulele dan memimpin grup musik The Hawaiian Seniors, yang sempat mengudara di TVRI dan Radio Elshinta. Selain bermusik, Hoegeng juga menggemari seni lukis dengan aliran naturalis. Setelah purna tugas dari kepolisian, ia menghabiskan banyak waktunya untuk melukis dan berkebun di kawasan Bogor, Jawa Barat.
Warisan Pengabdian
Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 di usia 82 tahun dan dimakamkan di TPBU Giritama, Kabupaten Bogor. Atas jasa-jasa besarnya bagi negara dan bangsa, ia dianugerahi berbagai penghargaan tertinggi, termasuk Bintang Republik Indonesia Utama dan Bintang Mahaputera Utama, serta sejumlah tanda jasa dari negara-negara sahabat seperti Thailand, Belanda, dan Malaysia.
Kisah hidup Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso tetap menjadi warisan berharga serta tolok ukur utama kejujuran dan dedikasi bagi segenap aparat penegak hukum di Indonesia.


















