KALSEL, Iki Radio — Operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan oleh TNI Angkatan Udara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuahkan hasil. Sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai diguyur hujan, yang diharapkan dapat menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengurangi kabut asap yang telah melanda wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, menyatakan bahwa hujan telah turun di beberapa wilayah selama beberapa hari terakhir seiring dengan masuknya OMC ke pekan keempat.
"Dalam beberapa hari terakhir hujan turun di sejumlah wilayah dampak dari operasi OMC. Ini memasuki pekan ke empat dan memang ada awan hujan di langit Kalsel sehingga hujan bisa turun. Kita harapkan hujan buatan ini dapat membantu mengatasi Karhutla di Kalsel," ungkap Ronny Eka Saputra pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Penurunan Luas Karhutla Harian
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kalsel, luas karhutla harian menunjukkan tren penurunan yang signifikan setelah turunnya hujan. Kendati demikian, akumulasi luas area yang terbakar hingga akhir Oktober 2026 tercatat telah mencapai lebih dari 28.000 hektare.
"Pada Senin (26 Oktober) luasan Karhutla harian jauh menurun hanya 40 hektare. Selain OMC, upaya pemadaman darat dan udara oleh Satgas Karhutla terus kita lakukan," tutur Ronny.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Penerbang Hilman LP Ambarita, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC ini merupakan bagian dari penugasan Presiden dan Panglima TNI yang dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG.
"Berdasarkan laporan hujan turun di bagian utara Kalsel dan wilayah Kalteng. Memang awan hujan meningkat di wilayah tersebut. Ada tiga pesawat Casa dan Hercules yang membantu kegiatan OMC ini," ujar Hilman.
Sebagai langkah lanjutan, Lanud Sjamsudin Noor berencana melakukan penaburan dry ice dan natrium klorida (NaCl) guna memaksimalkan penanganan karhutla serta kabut asap di Kalimantan Selatan dan Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Kerugian Ekonomi dan Sebaran Wilayah Terdampak
Sementara itu, laporan kaji cepat BNPB per 18 Oktober 2026 memperkirakan total kerusakan fisik dan kerugian ekonomi akibat bencana ekologis di Kalsel mencapai Rp12,15 triliun. Valuasi tersebut disusun oleh Analis Kebencanaan Ahli Muda BNPB, Abriveno YL Pitoy, berdasarkan pemantauan sebaran api dan titik asap.
Hingga pertengahan Oktober 2026, luas hutan dan lahan yang terbakar tercatat mencapai 14.080,30 hektare, yang terdiri atas 10.142,30 hektare lahan mineral dan 3.938 hektare lahan gambut.
Berikut adalah rincian wilayah dengan area terbakar terluas di Kalimantan Selatan:
- Kabupaten Banjar: 7.054,12 hektare (5.014,12 hektare lahan mineral dan 2.040 hektare lahan gambut).
- Kabupaten Tapin: 3.000,22 hektare (1.850,22 hektare lahan mineral dan 1.150 hektare lahan gambut).
- Kota Banjarbaru: 2.539 hektare (2.124 hektare lahan mineral dan 415 hektare lahan gambut).
- Kabupaten Tanah Laut: 817,50 hektare.
- Kabupaten Hulu Sungai Selatan: 343,15 hektare.
















