Iki Radio/Berita Terbaru

Iki Yang Paling/Ngetop

Iki Ceritanya/Orang Terkenal

KLIK DISINI

Iki Dibaca Juga/Jangan Lewatkan

Iki Terbaru/Paling Greeess

JATIM BEJO dan Masa Depan Belanja Negara yang Berkeadilan

Iki Radio - Transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan terus bergerak maju. Di tengah tuntutan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas, negara ditantang untuk memastikan bahwa setiap kebijakan berbasis teknologi benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat. Salah satu instrumen penting dalam transformasi ini adalah digitalisasi pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Lia Istifhama
Anggota DPD RI Komite III


Di Jawa Timur, Program Jawa Timur Belanja Online (JATIM BEJO) menjadi contoh konkret bagaimana belanja negara dapat diarahkan tidak hanya untuk efisiensi birokrasi, tetapi juga untuk keadilan ekonomi dan penguatan komunitas lokal.

Belanja negara bukanlah sekadar aktivitas administratif. Ia adalah wajah paling nyata dari kehadiran negara. Dari belanja itulah rumah sakit memperoleh alat kesehatan, sekolah mendapatkan sarana pembelajaran, dan bantuan sosial menjangkau masyarakat rentan. Ketika belanja negara dikelola dengan baik, pelayanan publik menguat. Sebaliknya, ketika belanja negara tersendat, tidak transparan, atau tidak berpihak, rakyatlah yang pertama kali merasakan dampaknya.


Digitalisasi Belanja sebagai Instrumen Kebijakan Publik

Digitalisasi pengadaan melalui sistem daring dan e-catalog menawarkan perubahan mendasar dalam cara negara membelanjakan uang publik. Sistem ini menghadirkan transparansi, jejak transaksi yang terekam, pembayaran non-tunai, serta kemudahan pengawasan. Praktik-praktik lama yang rawan penyimpangan dan tidak efisien semakin sulit dipertahankan.

Namun, digitalisasi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pemindahan proses manual ke layar digital. Ia harus dibaca sebagai instrumen kebijakan publik yang memiliki dampak sosial dan ekonomi. Pertanyaan yang perlu terus diajukan adalah: untuk siapa belanja digital ini bekerja, dan sejauh mana ia memberi manfaat nyata bagi masyarakat?

Dalam konteks inilah JATIM BEJO menjadi relevan. Program ini tidak hanya mengatur mekanisme belanja pemerintah secara digital, tetapi juga secara sadar dirancang untuk membuka akses pasar negara bagi pelaku ekonomi lokal.

JATIM BEJO dan Arah Baru Belanja Pemerintah

Pengalaman Jawa Timur menunjukkan bahwa belanja digital dapat dikelola secara sistematis dan inklusif. Melalui JATIM BEJO, belanja pemerintah daerah diarahkan agar lebih transparan, terukur, dan melibatkan pelaku lokal. Transaksi pengadaan dilakukan melalui marketplace yang terintegrasi dengan sistem pemerintah, sehingga memudahkan pemantauan sekaligus mempercepat proses.

Lebih dari itu, JATIM BEJO membuka ruang partisipasi bagi UMKM, koperasi, dan pelaku usaha berbasis komunitas. Ini merupakan langkah penting untuk mengoreksi praktik belanja pemerintah yang selama ini cenderung dinikmati oleh pelaku usaha besar dan terpusat.

Belanja negara yang ideal bukan hanya belanja yang cepat dan efisien, tetapi juga belanja yang adil dan berdampak. Ketika pelaku lokal dilibatkan, belanja negara berubah menjadi instrumen pemerataan ekonomi.

Pesantren dalam Ekosistem Belanja Negara

Salah satu dimensi penting dari JATIM BEJO adalah peluang keterlibatan pesantren dalam ekosistem belanja pemerintah. Pesantren selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan keagamaan dan sosial. Namun di balik itu, banyak pesantren memiliki unit usaha produktif, mulai dari makanan-minuman, konveksi, percetakan, pertanian, hingga jasa.

Sayangnya, potensi ekonomi pesantren sering kali terhambat oleh keterbatasan akses pasar. Digitalisasi pengadaan pemerintah membuka peluang baru agar produk pesantren dapat masuk ke pasar negara secara legal, transparan, dan berkelanjutan.

Keterlibatan pesantren dalam belanja negara memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar nilai transaksi. Ia membawa dimensi pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Ketika pesantren terlibat, dampak ekonomi tidak berhenti pada institusi, tetapi mengalir ke santri, alumni, tenaga kerja lokal, dan masyarakat sekitar. Belanja negara, dalam konteks ini, menjadi sarana penguatan ekonomi rakyat.

Tantangan Kesiapan dan Pendampingan

Meski peluang terbuka, keterlibatan pelaku lokal-termasuk pesantren-tidak bisa dilepas begitu saja. Sistem digital menuntut kesiapan administratif, legalitas usaha, standar produk, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Tanpa pendampingan, belanja digital berisiko hanya dinikmati oleh pelaku yang sudah mapan.

Di sinilah peran negara menjadi krusial. Pemerintah tidak cukup hanya membuka platform, tetapi juga harus hadir melalui pelatihan, pendampingan, dan kebijakan afirmatif. Digitalisasi yang berkeadilan menuntut negara untuk aktif menjembatani kesenjangan kapasitas, bukan sekadar menyerahkan kompetisi pada mekanisme pasar.

Jika tidak dikelola dengan hati-hati, belanja digital justru bisa memperlebar ketimpangan antara pelaku besar dan kecil, antara daerah yang siap dan yang tertinggal.


Relevansi dengan Tugas Komite III DPD RI

Sebagai anggota Komite III DPD RI, yang bermitra dengan kementerian di bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan pelayanan sosial, saya memandang JATIM BEJO sebagai praktik baik yang relevan dengan tugas konstitusional DPD RI. Hampir seluruh sektor yang menjadi perhatian Komite III bergantung pada efektivitas belanja negara.

Pengadaan alat kesehatan menentukan kualitas layanan rumah sakit. Belanja sarana pendidikan menentukan mutu pembelajaran. Dukungan anggaran bagi pendidikan keagamaan dan sosial menentukan keberlanjutan layanan berbasis komunitas. Oleh karena itu, belanja digital harus ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan pelayanan publik, bukan sekadar kebijakan keuangan.

DPD RI memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa praktik baik di daerah dapat menjadi rujukan kebijakan nasional, sekaligus memastikan suara daerah tidak terpinggirkan dalam transformasi digital pemerintahan.


Reformasi Birokrasi dan Etika Belanja Negara

Digitalisasi belanja juga membawa konsekuensi pada reformasi birokrasi. Sistem yang transparan dan terekam digital memaksa aparatur bekerja lebih disiplin dan akuntabel. Pola kerja lama yang bergantung pada relasi informal dan prosedur berbelit semakin tidak relevan.

Namun teknologi tidak otomatis mengubah budaya kerja. Tanpa etika pelayanan dan kepemimpinan yang kuat, digitalisasi berisiko menjadi formalitas. Oleh karena itu, transformasi belanja digital harus dibarengi dengan pembangunan integritas aparatur dan komitmen pimpinan daerah.

Belanja negara adalah soal kepercayaan publik. Setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral.


Menuju Belanja Negara yang Berkeadilan

JATIM BEJO memberi pelajaran penting bahwa belanja negara dapat diarahkan menjadi instrumen keadilan ekonomi dan penguatan sosial. Dengan melibatkan UMKM, koperasi, dan pesantren, belanja pemerintah tidak lagi eksklusif, tetapi inklusif.

Namun, keberhasilan ini harus terus dijaga dan dikritisi. Digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memastikan negara hadir secara lebih adil dan efektif. Evaluasi berkelanjutan, pengawasan publik, dan keberanian melakukan koreksi menjadi kunci agar belanja digital tidak kehilangan orientasi sosialnya.


Penutup

Belanja negara selalu berbicara tentang pilihan: siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal. Melalui JATIM BEJO, Jawa Timur menunjukkan bahwa belanja digital dapat diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Ke depan, tantangannya adalah memastikan bahwa transformasi ini tidak berhenti sebagai inovasi daerah, tetapi menjadi inspirasi nasional. Belanja negara harus terus ditanya ulang: apakah ia sudah cukup adil, cukup transparan, dan cukup berpihak pada rakyat?

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan belanja negara bukanlah besarnya transaksi, melainkan seberapa jauh ia menghadirkan negara dalam kehidupan masyarakat. (*)


Oleh :

Lia Istifhama
Anggota DPD RI Komite III

John Herdman Resmi Tangani Timnas Indonesia, PSSI Targetkan Transformasi Menuju Panggung Dunia

Iki Radio - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih kepala Tim Nasional Indonesia melalui jumpa pers di Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026). 

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih kepala Tim Nasional Indonesia melalui jumpa pers di Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026).


Penunjukan itu menjadi langkah strategis PSSI dalam memperkuat transformasi sepak bola nasional pascakegagalan lolos ke Piala Dunia 2026.

John Herdman hadir di lokasi sekitar pukul 09.30 WIB bersama jajaran pengurus PSSI dan disambut antusias oleh awak media. 

Dalam pernyataan perdananya, pelatih asal Inggris tersebut menyampaikan optimismenya terhadap potensi sepak bola Indonesia, baik dari sisi sumber daya pemain maupun dukungan publik.

“Saya senang datang ke Indonesia bersama keluarga saya. Ini adalah negara baru, kebudayaan baru, dan memiliki penggemar sepak bola yang luar biasa. Ini adalah kesempatan besar untuk membawa prestasi sepak bola Indonesia ke panggung dunia,” ujar Herdman.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan PSSI untuk memimpin Timnas Indonesia. Menurutnya, mandat tersebut bukan hanya soal taktik di lapangan, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang sepak bola nasional.

Salah satu tantangan utama yang disoroti Herdman adalah menyatukan potensi pemain diaspora dengan pemain lokal. Ia menegaskan pendekatannya tidak didasarkan pada asal-usul pemain, melainkan pada kualitas, peluang, dan kontribusi untuk tim.

“Saya tidak melihat paspor pemain. Saya melihat peluang. Keberagaman ini harus diterima sebagai kekuatan besar untuk Garuda,” tegasnya.

Herdman menyadari ekspektasi publik terhadap Timnas Indonesia sangat tinggi, terutama setelah langkah Indonesia yang sempat mendekati tiket Piala Dunia 2026 namun belum berhasil. 

Menurutnya, tekanan tersebut adalah bagian dari tanggung jawab seorang pelatih tim nasional.

“Memimpin tim nasional berarti memikul beban sebuah bangsa. Tekanan itu bisa menjadi kutukan atau justru menjadi berkah. Tugas kami adalah mengolah tekanan itu menjadi berkah,” ujarnya.

Berbekal pengalamannya membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah penantian sejak 1986, Herdman mengaku memahami betul arti momen ketika sebuah negara bersatu melalui sepak bola. Pengalaman tersebut ingin ia tularkan kepada para pemain Timnas Indonesia.

PSSI mengikat John Herdman dengan kontrak berdurasi dua tahun, dengan opsi perpanjangan dua tahun berikutnya sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju Piala Dunia 2030. 

Kontrak ini menegaskan komitmen federasi untuk membangun tim secara berkelanjutan, bukan sekadar mengejar hasil instan.

Penunjukan Herdman sejalan dengan agenda reformasi dan profesionalisasi sepak bola nasional, serta mendukung Asta-Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan prestasi olahraga dan peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global.

Dengan dukungan federasi, pemain, dan suporter, Herdman diharapkan mampu membangun fondasi tim nasional yang solid, kompetitif, dan berorientasi pada prestasi dunia.

Presiden Targetkan Renovasi 60 Ribu Sekolah pada 2026

Iki Radio - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional melalui renovasi besar-besaran fasilitas sekolah di seluruh Indonesia.


Presiden menyampaikan bahwa pada tahun 2026 pemerintah menargetkan renovasi 60.000 sekolah. Program tersebut menjadi bagian dari rencana jangka menengah untuk memperbaiki seluruh infrastruktur pendidikan nasional yang jumlahnya mencapai sekitar 300.000 sekolah.  


“Tahun ini saja saya akan merenovasi 60.000 sekolah. Kita memiliki sekitar 300.000 sekolah. Saya berharap dalam empat tahun ke depan seluruh sekolah di Indonesia dapat kita selesaikan dan kualitasnya terus kita tingkatkan,” ujar Presiden saat meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (13/1/2026).


Presiden menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi fondasi utama kesejahteraan dan demokrasi. 


“Pendidikan adalah instrumen pembangunan dan kesejahteraan. Pendidikan dan kesehatan adalah instrumen utama untuk menghilangkan kemiskinan,” tegas Presiden Prabowo.


Selain renovasi sekolah, pemerintah juga tengah membangun kampus SMA Taruna Nusantara baru di kawasan Ibu Kota Nusantara, Sulawesi Utara, dan Sumatra Selatan. Presiden menargetkan seluruh kampus tersebut dapat mulai beroperasi pada akhir Desember 2026.


Di samping itu, Presiden mengungkapkan rencana pembentukan sedikitnya 20 sekolah unggulan baru dengan nama SMA Garuda. 


Kedepan, pemerintah menargetkan setiap provinsi memiliki minimal satu SMA Taruna Nusantara atau SMA Garuda.


Lebih lanjut, Presiden juga mencanangkan pembangunan sekolah unggulan terintegrasi di setiap kabupaten, dengan target sekitar 500 sekolah dalam empat tahun ke depan.


Prabowo menekankan pentingnya pendidikan karakter, akhlak, dan integritas. Ia meminta para pimpinan lembaga pendidikan, kepala sekolah, serta tenaga pendidik menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. 


“Kita ingin mencetak kader yang patriotik, cinta tanah air, bertanggung jawab, jujur, dan tidak korupsi. Pemimpin yang berbuat terbaik untuk rakyat dan bangsanya,” tegas Kepala Negara. 



Dorong Disiplin Kelola Anggaran Desa, Bupati Madiun Ingatkan Skala Prioritas

Iki Radio - Bupati Madiun Hari Wuryanto mendorong seluruh Desa di Kabupaten Madiun, untuk disiplin dalam pengelolaan anggaran sejak awal. Hal ini agar seluruh kegiatan yang sudah direncanakan dapat segera berjalan dan masyarakat segera bisa merasakan manfaatnya.

Bimtek Optimalisasi Tata Kelola Keuangan Desa di Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun, Selasa (13/1/2026)


Sehingga, kegiatan yang sudah terencana tersebut tidak menumpuk di akhir tahun anggaran.

Ini disampaikan Bupati Madiun saat Bimbingan Teknis Optimalisasi Tata Kelola Keuangan Desa se-Kecamatan Wungu, di Graha Lembah Wilis, Desa Kresek, Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun, Selasa (13/1/2026).

“Program yang sudah disepakati harus dilaksanakan sesuai perencanaan. Dengan begitu, pelaksanaan bisa lebih terukur dan tidak terburu-buru di akhir tahun,” ujar Bupati.

Ditegaskan, disiplin perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi menjadi kunci utama dalam pengelolaan keuangan desa.

Sementara itu terkait dengan adanya efisiensi dan keterbatasan anggaran, Bupati meminta agar pemerintah desa bisa menyesuaikan dengan membuat skala prioritas.

“Anggaran itu terbatas, sehingga perlu penentuan prioritas agar program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini Bupati juga mengingatkan desa untuk tetap melaksanakan program prioritas dari pemerintah pusat. Soal penganggaran, hal ini dapat dilakukan penyesuaian melalui mekanisme perubahan anggaran.

“Jika nantinya terdapat penyesuaian, mekanismenya akan dilakukan melalui perubahan anggaran,” tambahnya.

Peningkatan kapasitas aparatur desa serta pemanfaatan teknologi dalam tata kelola pemerintahan desa, juga menjadi kunci keberhasilan pemerintah desa.

“Pengelolaan keuangan desa yang tertib, transparan dan akuntabel, akan mendukung efektivitas pemerintahan desa, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.(ir)

 

Pemkab Morowali dan TNI AL Teken Nota Kesepakatan Penguatan Keamanan Maritim

Iki Radio - Pemerintah Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, menyambut kunjungan kerja Komandan Komando Armada (Dankoarmada) VI Makassar, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz bersama rombongan, bertempat di Aula Lantai II Kantor Bupati Morowali, Selasa (13/1/2026).

Komandan Komando Armada (Dankoarmada) VI Makassar, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz bersama rombongan, bertempat di Aula Lantai II Kantor Bupati Morowali, Selasa (13/1/2026).


Kunjungan kerja tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali Yusman Mahbub, Ketua DPRD Morowali, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Morowali dan TNI Angkatan Laut tentang peningkatan tugas dan fungsi TNI AL di Kabupaten Morowali. Kesepakatan ini menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperkuat sinergi menjaga keamanan dan stabilitas wilayah maritim.

Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Pemerintah Kabupaten Morowali. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan kali pertama dirinya menginjakkan kaki di Kabupaten Morowali sejak dilantik oleh Presiden Republik Indonesia.

Ia menegaskan bahwa Kabupaten Morowali memiliki posisi yang sangat strategis dari sisi kemaritiman. Dengan wilayah laut yang luas, Morowali dinilai perlu diperkuat dari aspek pertahanan laut guna menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz beserta seluruh rombongan atas kunjungan kerja yang dilakukan.

“Kehadiran Bapak beserta jajaran merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami, sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperkuat sinergi antara Pemerintah Daerah dan TNI, khususnya TNI Angkatan Laut,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, Kabupaten Morowali sebagai daerah pesisir dan kawasan strategis di Sulawesi Tengah memiliki potensi kelautan yang besar, baik dari sisi ekonomi, industri, maupun pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu, peran TNI AL dinilai sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah laut dan mendukung keberlanjutan pembangunan daerah.

Wakil Bupati Morowali juga menyampaikan keyakinannya bahwa melalui kunjungan kerja ini, hubungan kerja sama, koordinasi, dan komunikasi antara Komando Armada VI Makassar dan Pemerintah Kabupaten Morowali akan semakin erat.

“Sinergi yang kuat antara TNI dan Pemerintah Daerah merupakan kunci utama dalam mewujudkan daerah yang aman, kondusif, dan sejahtera,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Morowali turut menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada TNI Angkatan Laut atas dedikasi dan pengabdiannya dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di wilayah perairan Indonesia Timur.

Kegiatan kunjungan kerja diakhiri dengan jamuan makan siang sebagai bentuk penghormatan, persaudaraan, dan kebersamaan, dengan harapan kerja sama yang terjalin dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan Kabupaten Morowali.

 

ATR/BPN Perkuat Pembinaan SDM untuk Hadapi Tantangan Layanan Publik

Iki Radio - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) tengah menyusun progres pembinaan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sebagai langkah strategis menghadapi kompleksitas tugas dan meningkatnya tuntutan pelayanan publik. Penguatan kompetensi dinilai krusial untuk memastikan kualitas layanan pertanahan yang profesional, adaptif, dan berkeadilan.

Rapat Pembahasan Kebutuhan Peningkatan Kompetensi, di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta.


Sekretaris Jenderal Kementerian ATR/BPN, Dalu Agung Darmawan, menegaskan bahwa pembinaan dan pengembangan SDM diperlukan untuk memitigasi risiko ketimpangan kompetensi dan pengetahuan di lingkungan organisasi yang memiliki keragaman jabatan, latar belakang pendidikan, serta fungsi kerja.

“Untuk memitigasi risiko terkait ketimpangan kompetensi dan pengetahuan, peran pengembangan dan pembinaan SDM ini sangat dibutuhkan. Tugas kita semakin kompleks, sementara tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik juga semakin tinggi,” ujar Dalu Agung Darmawan, Selasa (13/1/2026). 

Berdasarkan data Biro Organisasi, Tata Laksana, dan Manajemen Risiko (Ortala MR), jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian ATR/BPN saat ini mencapai sekitar 34.000 pegawai, yang terdiri atas PNS dan PPPK. Kondisi tersebut menuntut pendekatan pengembangan SDM yang lebih terstruktur, terperinci, dan berbasis pemetaan potensi individu.

Menurut Dalu, pembinaan SDM harus menyentuh seluruh lini kerja, mulai dari front office pelayanan publik hingga pekerjaan teknis dan ketatausahaan. Pemetaan karakteristik pegawai menjadi kunci agar pengembangan kompetensi tepat sasaran.

“Peran pengembangan SDM sangat penting untuk melihat para aktor di kantor pertanahan. Misalnya, karakteristik pegawai loket pelayanan hingga pekerjaan teknis seperti ketatausahaan, itu perlu kita bahas secara serius,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ATR/BPN, Agustyarsyah, menyampaikan bahwa berbagai persoalan organisasi kerap bermula dari aspek SDM. Untuk itu, BPSDM telah membentuk assessment center sebagai instrumen pemetaan profil pegawai sekaligus dasar penyusunan pelatihan pengembangan kompetensi, baik manajerial maupun teknis.

“Kami memetakan profil pegawai dan kebutuhan pelatihannya. Ke depan, pada Mei 2026, kami menyiapkan proyek kantor model untuk tiga kantor pertanahan sebagai percontohan bagi ratusan kantor pertanahan lainnya,” ujar Agustyarsyah.

Ia berharap model tersebut dapat menjadi rujukan nasional dalam peningkatan kualitas pelayanan pertanahan yang efektif, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Penguatan kapasitas SDM ATR/BPN sejalan dengan Asta-Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan birokrasi yang profesional, bersih, dan melayani, serta penguatan tata kelola pemerintahan yang efektif dan berintegritas. Melalui pembinaan SDM yang berkelanjutan, ATR/BPN diharapkan mampu mempercepat transformasi pelayanan pertanahan menuju standar kelas dunia.

 

Pemkot Pontianak Minta OPD Percepat Belanja Modal dan Layanan Responsif

Iki Radio - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menekankan pentingnya percepatan eksekusi program, khususnya belanja modal, agar kualitas pekerjaan dapat terjaga dan tidak terkendala faktor cuaca maupun musim pasang.

Penandatanganan Perjanjian Kinerja di Lingkungan Pemkot Pontianak 2026


Hal itu disampaikan kepada para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ketika penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2026 di Ruang Kerja Wali Kota Pontianak, Selasa (13/1/2026).

Edi menjelaskan bahwa perjanjian kinerja ini merupakan bentuk kesepakatan pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2026 yang telah disusun dan ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tahunan. 

“Saya sudah perintahkan agar belanja modal sudah mulai dilaksanakan sejak Januari dan Februari. Ini penting supaya pekerjaan tidak terlambat, kualitasnya terjaga, dan tidak terganggu musim hujan atau air pasang,” ujarnya.

Selain percepatan fisik, Wali Kota juga menekankan peningkatan kualitas pelayanan publik. Ia meminta seluruh OPD lebih peduli dan responsif terhadap persoalan masyarakat di lapangan, serta mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang mampu mempermudah dan mempercepat pelayanan. Menurutnya, kinerja birokrasi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Edi turut menyampaikan hasil evaluasi penyerapan anggaran 2025. Ia mengakui masih terdapat beberapa OPD dengan belanja modal besar yang penyerapannya belum optimal, seperti Dinas PUPR dan Dinas Pendidikan. Hal itu diakibatkan waktu pelaksanaan lelang yang dimulai pada pertengahan tahun dan terkendala kondisi lapangan.

“Secara umum penyerapan anggaran kita cukup baik, rata-rata mencapai 93 persen. Sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) terjadi karena beberapa faktor, seperti penghematan, pendapatan yang melebihi target, serta sisa dana lelang,” jelasnya. 

Dibandingkan 2024, penyerapan anggaran tahun 2025 mengalami selisih sekitar 0,7 persen, yang salah satunya disebabkan keterlambatan memulai pekerjaan.

Wali Kota Edi Kamtono menekankan pentingnya transparansi dan kecepatan pelaksanaan program. Ia meminta setiap pekerjaan yang belum tuntas segera diselesaikan, serta memastikan seluruh pelaksanaan kegiatan tetap peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Yang paling penting itu cepat, transparan, dan peduli dengan lingkungan di mana kegiatan dilaksanakan. Jangan sampai program berlarut-larut dan manfaatnya terlambat dirasakan masyarakat,” katanya.

Perjanjian kinerja merupakan amanat regulasi nasional, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PANRB Nomor 89 Tahun 2021 tentang Penjenjangan Kinerja Instansi Pemerintah serta Peraturan Menteri PANRB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja dan Pelaporan Kinerja. Dokumen tersebut menjadi bentuk penugasan resmi dari pimpinan kepada jajaran perangkat daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan yang disertai indikator kinerja utama (IKU) yang terukur.

“Perjanjian kinerja bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi tolok ukur mengevaluasi kinerja kepala perangkat daerah dalam mencapai tujuan pembangunan Kota Pontianak,” tegasnya. 

Ia menambahkan, seluruh IKU yang ditetapkan harus selaras dengan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Kota Pontianak Tahun 2025–2029 serta Renstra masing-masing perangkat daerah. Edi juga menekankan pentingnya distribusi kinerja hingga ke level individu ASN, sejalan dengan Peraturan Wali Kota Pontianak Nomor 43 Tahun 2024 tentang mekanisme kerja ASN pasca penyederhanaan birokrasi. Dengan demikian, setiap aparatur memiliki sasaran kinerja pegawai (SKP) yang selaras dengan tujuan organisasi.

“Kinerja organisasi tidak akan tercapai jika tidak ditopang kinerja individu yang jelas dan terukur,” ujarnya. 

Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, menekankan pentingnya peran organisasi perangkat daerah (OPD) untuk lebih reaktif dalam merespons persoalan publik. Menurutnya, pola kerja yang hanya bersifat rutinitas dan formal sudah tidak lagi memadai di tengah tuntutan masyarakat yang semakin tinggi.

Bebby menilai, lemahnya perencanaan dan pengelolaan data masih menjadi persoalan mendasar di sejumlah OPD. Kondisi tersebut berdampak pada lambatnya respons terhadap masalah yang muncul di lapangan. Ia mengingatkan bahwa keterbatasan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

“Kalau kita sudah memahami kekurangan, seharusnya bisa menentukan langkah konkret untuk memperbaikinya. OPD tidak cukup hanya menjalankan program, tetapi harus mampu membaca persoalan dan bergerak cepat,” terangnya.

Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam kinerja OPD. Menurut Bebby, tanpa inovasi, pelaksanaan program akan berhenti pada aspek administratif dan sulit menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata. Karena itu, kepala OPD dituntut memiliki kepekaan dan keberanian untuk melakukan terobosan.

Bebby menambahkan, pengawasan terhadap kinerja OPD saat ini tidak hanya datang dari DPRD, tetapi juga dari masyarakat luas, terutama melalui media sosial. Situasi tersebut seharusnya menjadi pemicu bagi OPD untuk lebih responsif, terbuka, dan adaptif.

“Sekarang pengawasan itu terbuka. Masyarakat ikut memantau. Maka OPD harus lebih reaktif, tidak menunggu masalah membesar baru bergerak,” katanya.

DPRD, lanjut Bebby, akan terus menjalankan fungsi pengawasan dan memberikan masukan kepada OPD agar pelayanan publik di Kota Pontianak semakin baik. Ia berharap semangat inovasi dan respons cepat dapat menjadi budaya kerja di seluruh perangkat daerah.

 

Sepanjang 2025, Riau Catat 304 Kasus Penyakit Mulut dan Kuku

Iki Radio - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau mencatat sebanyak 304 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak sepanjang tahun 2025. Kasus tersebut dilaporkan terjadi di delapan kabupaten/kota di wilayah Provinsi Riau.



Kepala Dinas PKH Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah kasus PMK tertinggi, yakni sebanyak 143 kasus.

“Selama kurun waktu tahun 2025 terdapat 304 kasus PMK di Riau. Dari jumlah tersebut, satu ekor ternak dilaporkan mati di Dumai,” ujar Mimi, Selasa (13/1/2026).

Setelah Indragiri Hulu, daerah dengan jumlah kasus PMK terbanyak berikutnya adalah Siak sebanyak 65 kasus. Selanjutnya Rokan Hulu dan Kota Dumai masing-masing 25 kasus, serta Indragiri Hilir sebanyak 19 kasus.

“Kasus PMK juga ditemukan di Kampar sebanyak 9 kasus, Pelalawan 6 kasus, Kuantan Singingi dan Bengkalis masing-masing 5 kasus, serta Rokan Hilir satu kasus,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas PKH Provinsi Riau telah melaksanakan vaksinasi PMK terhadap hewan ternak di 12 kabupaten/kota, termasuk pada unit pelaksana teknis (UPT) milik Dinas PKH.

“Sepanjang tahun 2025, vaksinasi PMK telah diberikan kepada sekitar 40 ribu ekor ternak di seluruh Riau. Vaksinasi dilakukan di semua daerah, termasuk wilayah yang tidak ditemukan kasus PMK,” paparnya.

Selain itu, Dinas PKH Riau mengimbau para peternak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit ternak, terutama di musim hujan dan banjir. Menurutnya, selain PMK, ancaman penyakit lain seperti Septicaemia Epizootica (sapi ngorok) dan Jembrana juga berpotensi meningkat akibat cuaca ekstrem.

“Musim hujan dan banjir dapat mempercepat penyebaran virus. Kami mengimbau peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan segera melaporkan kepada petugas jika menemukan ternak yang sakit,” tutupnya.

 

close
Pasang Iklan Disini