Iki Radio – Kabupaten Madiun menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang dan kaya. Berawal dari masa Kesultanan Demak, wilayah ini secara yuridis formal resmi berdiri pada hari Kamis Kliwon, 18 Juli 1568 (atau Jumat Legi, 15 Suro 1487 Be dalam penanggalan Jawa Islam).
Momentum ini ditandai dengan dilantiknya putra bungsu Sultan Trenggono, Pangeran Timoer, sebagai Bupati pertama di wilayah yang saat itu masih bernama Kadipaten Purabaya, menggantikan masa pengawasan Kyai Rekso Gati.
Kisah Heroik Raden Ayu Retno Dumilah dan Asal-usul Nama Madiun
Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan Purabaya dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo (Kuncen) pada tahun 1575. Sejarah mencatat babak dramatis ketika kekuasaan diserahkan kepada putri Pangeran Timoer, yaitu Raden Ayu Retno Dumilah pada tahun 1686. Sebagai senopati perang yang tangguh, ia memimpin prajurit Mancanegara Timur dan berhasil memukul mundur serangan Mataram pada tahun 1586 dan 1587.
Namun, pada tahun 1590, Mataram kembali menyerang taktik berpura-pura takluk. Dalam pertempuran sengit di sekitar sendang dekat istana Wonorejo, Sutawidjaja berhasil merebut pusaka Tundung Madiun. Melalui bujuk rayu, Raden Ayu Retno Dumilah akhirnya dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Plered, Yogyakarta.
Untuk memperingati penguasaan Mataram atas Purabaya, pada hari Jumat Legi, 16 November 1590 Masehi, nama "Purabaya" resmi diganti menjadi "Madiun".
Dinamika Perpindahan Ibu Kota dan Sakralnya Boyongan ke Mejayan
Berdasarkan alasan kosmologis Jawa, pusat pemerintahan Kabupaten Madiun tercatat telah berpindah berkali-kali. Beberapa daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan antara lain Sogaten, Kuncen (Wonorejo), Demangan (Wonosari), Kranggan, Maospati (Magetan), Pangongangan (Kota Madiun), Mejayan (Caruban).
Perpindahan terakhir terjadi pada 27 Agustus 2014, di mana Pemerintahan Kabupaten Madiun melakukan boyongan simbolis dari Pangongangan (yang sudah bertahan selama 190 tahun sejak masa Bupati Ronggo Prawirodiningrat tahun 1820) menuju ke Mejayan (Caruban).
Prosesi ini berlangsung sakral melalui kirab budaya yang mengusung tema Kadipaten Madiun masa lampau, melibatkan 36 kereta kencana dan 25 pasukan berkuda. Prosesi diawali penyerahan pataka Kabupaten Madiun serta tombak Pusaka Kyai Balabar oleh tiga mantan bupati kepada Bupati Madiun saat itu, Muhtarom. Kini, legalitas Caruban sebagai ibu kota diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2019.
Potensi Daerah, Seni Budaya, dan Konektivitas Infrastruktur
Saat ini, Kabupaten Madiun yang terdiri atas 15 kecamatan (198 desa dan 8 kelurahan) tumbuh menjadi wilayah yang maju dengan masyarakatnya yang lekat menggunakan Bahasa Jawa Dialek Madiun.
Di sektor pendidikan, kabupaten ini telah memiliki perguruan tinggi seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Madiun dan Universitas Sebelas Maret Kampus Madiun.
Kekayaan Seni dan Budaya
Kabupaten Madiun sangat terkenal dengan pelestarian budayanya, di antaranya:
Kesenian Dongkrek: Seni pertunjukan komunal berupa tari-tarian dan arak-arakan (pawai) yang dimainkan oleh delapan orang atau lebih.
Pencak Silat: Kampung halaman bagi berbagai perguruan silat besar.
Reog Ponorogo: Seni tari topeng kepala singa berhias bulu merak yang juga menjadi bagian dari kekhasan Madiun karena letak geografisnya yang berdekatan dengan Ponorogo.
Akses Transportasi yang Strategis
Secara geografis, Kabupaten Madiun berada di posisi yang sangat strategis karena dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta melalui Jalan Nasional Rute 17 dan Rute 32. Wilayah ini juga didukung oleh akses Jalan Tol Ngawi–Kertosono dengan keberadaan Gerbang Tol Madiun dan Gerbang Tol Caruban.
Untuk transportasi publik, pergerakan masyarakat dilayani oleh Bus AKAP/AKDP di Terminal Caruban. Di sektor perkeretaapian, Stasiun Caruban berdiri sebagai stasiun terbesar di kabupaten ini, didukung oleh stasiun kecil seperti Stasiun Babadan dan Saradan di bawah Daerah Operasi VII Madiun.
Menariknya, Madiun juga memiliki jejak sejarah transportasi berupa jalur kereta api nonaktif lintas Madiun–Ponorogo–Slahung yang menyisakan eks-Stasiun Pagotan, Kanigoro, Dolopo, dan Halte Milir.





.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)












